70 Pantun Cinta Gombal dan Lucu yang Bikin Pasangan Baper
Bagian 1: Gombalan Maut (Bikin Baper Maksimal)
Ke pasar beli buah duku,
Jangan lupa beli kain kasa.
Dulu kamu cuma temanku,
Sekarang kamu pemilik jiwa.
Makan nasi lauknya ikan,
Ikan dimasak di dalam kuali.
Wajahmu cantik tak terlukiskan,
Bikin hatiku terpikat berkali-kali.
Minum jamu di hari Minggu,
Biar badan sehat dan kuat.
Hanya satu yang aku tunggu,
Cintamu yang tulus dan memikat.
Ada kucing mengejar tikus,
Tikus lari ke bawah bangku.
Cintaku padamu sangatlah tulus,
Takkan luntur dimakan waktu.
Pergi ke sawah bawa cangkul,
Sambil bernyanyi lagu ceria.
Duniaku terasa makin unggul,
Semenjak ada kamu yang setia.
Beli baju di pasar pagi,
Warnanya merah menyala-nyala.
Janganlah kamu pergi lagi,
Karena tanpamu aku merana.
Jalan-jalan ke kota Blitar,
Mampir sebentar di tukang jamu.
Jantungku selalu bergetar,
Setiap kali menatap matamu.
Burung dara burung merpati,
Terbang tinggi di atas awan.
Hanya kamu yang ada di hati,
Lainnya cuma sekadar kawan.
Buah mangga buah sirsak,
Dibawa pulang oleh si kancil.
Hatiku ini sudah terdesak,
Oleh cintamu yang tak mungil.
Masak air sampai mendidih,
Biar enak seduh kopinya.
Jangan biarkan hatiku sedih,
Jadilah kamu satu-satunya.
Bagian 2: Lucu & Receh (Bikin Ketawa Tapi Sayang)
Ikan hiu makan tomat,
I love you sampai kiamat.
Satu titik dua koma,
Kamu cantik aku yang punya.
Makan roti pakai selai,
Kamu pergi aku pun gulai (lemes).
Dulu delman sekarang taksi,
Dulu teman sekarang istri.
Beli paku di tukang kayu,
Don't be kaku, I love you.
Buah kedondong buah manggis,
Dulu sombong sekarang nangis (minta balikan).
Masak sekoteng pakai kelapa,
Ganteng-ganteng kok jomblo apa?
Ke Jakarta naik kereta,
Singgah sebentar di rumah saya.
Wajahmu memang biasa saja,
Tapi cintaku luar biasa.
Makan bakso pakai cuka,
Tambah sambal biar terasa.
Gimana aku nggak suka,
Kamu lucu dan penuh pesona.
Ada kera di atas pohon,
Pohonnya tinggi ditiup angin.
Sama kamu aku memohon,
Jangan galak-galak dong, Cantik/Ganteng.
Bagian 3: Rayuan Manis (Ciee Gitu!)
Beli kain warna biru,
Bikin kemeja buat kondangan.
Setiap hari aku rindu,
Pengennya kita terus gandengan.
Malam-malam makan mi instan,
Makan bareng di teras rumah.
Kamu itu kayak intan,
Bikin hidupku makin indah.
Ke apotek beli obat,
Dikasih vitamin sama dokter.
Cintaku ini sangat kuat,
Nggak bakal goyah kayak poster.
Menanam bunga di dalam pot,
Bunganya mawar warnanya merah.
Meski hidup terasa repot,
Melihatmu bikin aku cerah.
Buah nanas buah pepaya,
Disimpan di dalam peti.
Janganlah kamu tak percaya,
Cuma kamu bidadari hati.
Naik motor ke kota tua,
Beli es krim rasanya stroberi.
Mari kita menua berdua,
Hingga tak ada lagi hari.
Minum susu di pagi hari,
Sambil makan roti bakar.
Cintamu selalu kucari,
Walau harus ke ujung fajar.
Lihat pelangi setelah hujan,
Indah warnanya tujuh rupa.
Wajahmu selalu jadi pujaan,
Takkan mungkin aku lupa.
Hari Minggu ke rumah paman,
Bawa oleh-oleh buah mangga.
Kamu adalah teman idaman,
Yang bikin hidupku bangga.
Ada semut di dalam gula,
Gulanya manis dari tebu.
Hatiku sedang gila-gila,
Mengejar cinta dari dirimu.
Bagian 4: Pantun Singkat (To The Point)
Kayu jati di tengah hutan,
Hati ini sudah tertawan.
Jualan jamu di hari Selasa,
Melihatmu aku tersiksa (rindu).
Makan sate di Senayan,
Kamu itu idaman sekian.
Buah duku buah manggis,
Senyummu itu paling manis.
Beli pasta gigi di toko sebelah,
Aku tanpamu mah apa atuh, ya Allah.
Kucing lari ke arah dapur,
Cintaku padamu takkan luntur.
Pohon jambu buahnya lebat,
Kamu itu teman yang hebat (dan pacar yang dahsyat).
Burung nuri burung dara,
Hati ini sedang asmara.
Makan ketan di sore hari,
Jangan tinggalkan aku sendiri.
Sayur bayam dimasak bening,
Mikirin kamu bikin pening (tapi seneng).
Bagian 5: Pantun Janji Setia
Laut luas warnanya biru,
Tempat berenang ikan paus.
Cintaku ini takkan layu,
Walau musim berganti terus.
Menulis surat pakai tinta,
Tinta hitam di atas kertas.
Begitu besar rasa cinta,
Takkan bisa diukur batas.
Pergi ke pasar beli ragi,
Beli kapas di toko kain.
Aku takkan mencari lagi,
Hati ini bukan untuk yang lain.
Mendaki gunung melihat awan,
Indah nian dipandang mata.
Kamu itu penuh kewibawaan,
Membuatku jatuh dalam cinta.
Beli gelang di toko emas,
Hadiah ulang tahun buat ibu.
Janganlah hatimu merasa cemas,
Aku setia hanya untukmu.
Sore hari makan kolak,
Manis rasanya dicampur nangka.
Cintaku takkan pernah ditolak,
Sebab kita adalah jodoh sangka.
Memetik bunga di tepi jalan,
Bunga melati harum baunya.
Biarlah cinta jadi awalan,
Bahagia selamanya adalah akhirnya.
Makan nasi pakai sambal terasi,
Enaknya sampai ke ubun-ubun.
Kamu adalah sumber inspirasi,
Dalam setiap langkah dan pantun.
Langit malam penuh bintang,
Bulan sabit bersinar terang.
Walau badai besar datang,
Cintaku padamu takkan kurang.
Kereta api menuju Bandung,
Berhenti sebentar di Purwakarta.
Di bawah langit yang sama bernaung,
Hanya kamu yang aku cinta.
Bagian 6: Pantun "Ngegas" Sayang
Makan soto di pinggir jalan,
Minumnya es teh manis.
Nggak usah banyak alasan,
Kamu itu emang manis!
Jalan-jalan ke kebun binatang,
Lihat gajah main air.
Jangan bikin hatiku bimbang,
Cepat dong nyatakan takdir!
Beli baju ukurannya pas,
Dipakai saat lebaran tiba.
Cintaku ini sudah lepas,
Nggak bisa lagi buat ditunda!
Ada ular di balik semak,
Semaknya ada di bawah pohon.
Cintaku ini emang banyak,
Nggak usah pakai diskon-diskon!
Masak mie campur telur,
Dimakan bareng saat hujan.
Jangan biarkan cinta mundur,
Ayo kita ke pelaminan!
Beli paku di pasar malam,
Pakunya kuat buat jemuran.
Rasa cintaku sangat dalam,
Lebih dalam dari lautan!
Burung gagak suaranya serak,
Terbang rendah di atas taman.
Hati ini sudah teracak-acak,
Oleh pesonamu wahai idaman!
Ke bengkel benerin motor,
Motornya mogok di jalan raya.
Meski wajahku agak kotor,
Tapi cintaku sangat terpercaya!
Makan nanas di siang bolong,
Rasanya asam segar sekali.
Jangan jadi orang sombong,
Balaslah cintaku sekali ini!
Ada kancil mencuri timun,
Timunnya dibawa ke dalam gua.
Nggak usah banyak melamun,
Mending kita menua berdua!
Bagian 7: Penutup yang Paling "Baper"
Membawa lampu di kegelapan,
Agar jalan terlihat terang.
Kamu adalah masa depan,
Yang selalu aku sayang.
Pergi ke laut menjala ikan,
Dapat banyak dibawa pulang.
Sulit rasanya melupakan,
Wajahmu yang selalu terbayang.
Menanam padi di awal musim,
Berharap panen melimpah ruah.
Hanya padamu aku bermukim,
Dalam cinta yang penuh berkah.
Buah apel merah warnanya,
Petik satu dari dahan.
Kamulah jawaban doanya,
Yang kukirimkan pada Tuhan.
Jalan santai di sore hari,
Melihat anak bermain layangan.
Tak perlu lagi aku mencari,
Sebab kamu adalah pelabuhan.
Mengukir kayu jadi hiasan,
Butuh sabar dan ketelitian.
Cintaku bukan sekadar lisan,
Tapi bukti dan kesetiaan.
Minum kopi tanpa gula,
Terasa pahit di lidah kita.
Hidupku akan terasa hampa,
Jika kamu tak ada di sana.
Angin sepoi meniup raga,
Duduk santai di tepi pantai.
Memilikimu adalah surga,
Yang membuat hidupku damai.
Bintang kecil di langit tinggi,
Menemani bulan yang sunyi.
Janji ini takkan aku ingkari,
Sampai nanti aku mati.
Pergi ke pasar beli sepatu,
Sepatu kulit warnanya cokelat.
Cintaku padamu nomor satu,
Sampai dunia kiamat!
